Namanya mawar (bukan nama sebenarnya), usia 5 tahun (Tapi kan dia cowo’, masa mawar sih? Yah, sebut saja ade’). Untuk lebih jelasnya kuceritakan dulu sejarah mengenai dia. Lahir pada 27 Maret 2003 silam, di RS Internasional Bintaro. Saat melahirkan usia ibunya sudah menginjak 41 tahun, sebuah kehamilan yang sama sekali tidak terduga. Saat baru lahir, mungkin karena faktor kesehatan ibunya, ade’ butuh perawatan khusus selama berminggu-minggu di RS. suatu kejadian nyata sesaat menjelang kelahirannya, saat sang kakak, seorang pria yang cukup ganteng, yang saat itu baru berusia 16 tahun ditanya oleh seorang suster yang cukup sok tahu, “Anak pertama ya mas, wajar lah kalau gugup!” Walhasil sang pria hanya bisa tersenyum masam dan segera mencari kaca, (dalam hati: emang tampang gw setua itu ya?). Saat Bapaknya menjenguk di RS, suster yang sama dengan lebih sok tahu lagi bertanya, “Jenguk cucu ya pak? Yang ke berapa?” Serta-merta sang bapak berlalu dengan sewotnya meninggalkan sang suster yang hanya bisa bengong. Cukuplah sekilas sejarah kelahiran sang Ade’.
Ade’ tumbuh sebagaimana anak seusianya, malah ukuran tubuhnya bisa dibilang bongsor untuk anak seusianya. Di usianya yang 5 tahun ini ade’ baru mau akan masuk TK Bulan Mei mendatang. Tumbuh di keluarga “pekerja” membuat ade’ lebih banyak mendapatkan didikan dari lingkungan sekitarnya (teman-teman, tetangga, dan pengasuhnya). Ade’ yang hiperaktif, ditambah kecerdasannya yang bisa dibilang di atas rata-rata membuatnya sering melakukan hal-hal yang tidak terduga, atau melontarkan komentar yang tak terduga juga.
Kadang-kadang semua ulahnya itu memberi hiburan tersendiri bagi kami yang sedang berada di sekitarnya. Tapi kadang juga kecerdasannya yang berlebihan itu membuat orang yang di dekatnya merasa malu sendiri. Seperti contohnya, beberapa saat yang lalu, salah seorang tetangga sebelah rumah (keluarga mereka menganggap Ade’ seperti anak laki-lakinya sendiri) sedang mengalami konflik rumah tangga. Sang anak perempuan yang baru berusia 9 tahun meminta bantuan pada keluarga Ade’ sambil menangis. Bapak&Ibu Ade’ berinisiatif untuk menuju ke rumah mereka dan berusaha menenangkan mereka. Sedangkan Ade’ berlari menuju ke bagian belakang rumah, orang-orang mengira Ade’ takut, lalu bersembunyi. Tapi saudara-saudara, tahukah Anda apa yang dilakukan Si Ade’? Ternyata Si Ade’ mengambil sepedanya dan segera mengayuhnya di sepanjang jalan depan rumah yambil berteriak-teriak, “Saudara-saudara, tolong, saksikanlah, Mamah(begitu dia memanggil orangtua keduanya itu) mau di hkkk (sambil meletakkan tangannya di leher seolah-olah orang tercekik)” berulang-ulang. Kontan ramai orang-orang berdatangan seakan hendak melihat suatu pertunjukan paling akbar tahun ini.
Lalu pada suatu waktu, seorang tetangga datang ke rumah Ade, dan berkata kepada Ibu Ade, “Bu, tuh anaknya lagi nangis di pojokan, ga tau kenapa?” Kemudian kakaknya yang berinisiatif menanyakan kepada sang adik, “Ade kenapa?” lalu sang adik menjawab, “Aku sedih, aku ditolak sama Mbak Tria (salah seorang teman bermainnya, kelas 2 SD), Mbak Tria milih Imam (teman bermainnya, seumuran Ade).” Sang kakak bingung dengan suksesnya, tak tahu harus berkata apa lagi.
Cerita yang lain lagi, saat ibu-ibu disekitar rumah sedang berkumpul dan membicarakan apa saja yang bisa dibahas, mulai harga cabe, anak-anak, sampai gosip di infotainment tadi pagi, tiba-tiba Ade ikut nimbrung bersama mereka. Saat ada seorang ibu bertanya pada ibu lainnya, “Jeng, suamimu dirawat di RS mana? Sakit apa katanya?” tiba-tiba terlontar jawaban dari Ade, “Yah ibu, kan Menk (nama samaran sang suami dari ibu yang ditanyai) sakit gara-gara dimarahin melulu sama istrinya!” Oh MG!!!
Ada lagi cerita tentang tukang bakso. Karena sang ibu sangat hobby makan bakso, maka mereka sekeluarga memiliki tukang bakso langganan yang lewat di depan rumah saat sore tiba. Suatu hari, saat sedang memesan bakso (saat itu usianya baru 3 tahun), dengan polosnya Ade’ bertanya ke Abang Baksonya, “Bang, Abang masih bujang kan? Kapan-kapan maen yuk, ke rumah kakek aku di PM Bintaro, aku punya tante masih gadis lho, ntar aku kenalin deh!” Maaakkkk???
Kami sebagai orang-orang terdekatnya tak pernah tahu, darimana Ade’ mendapatkan ide untuk melontarkan kalimat-kalimat tersebut. Kalimat yang menurutku sangat belum pantas untuk anak seumurannya. Bayangkan saja, di usia yang baru 3 tahun, saat ngomong aja belum becus, udah kenal kata bujang&gadis? Punya ide jadi mak comblang lagi! lalu bisa ikut bergosip bersama ibu-ibu tetangga. Menurut analisisku (halah!), semuanya bermuara dari kurangnya kontrol dari orang tua. Dengan kondisi kedua orang tua bekerja, kedua kakak kuliah dan sekolah, Ade’ hanya berteman sang pengasuh yang membebaskannya melakukan apa yang ia suka. Selama ini dia dengan bebas menonton semua acara televisi, dari pagi, sampai larut malam. Dia bebas mendengar pembicaraan ibu-ibu tetangga yang mungkin adalah sebuah pembicaraan yang sifatnya dewasa. Dengan berbekal kecerdasan yang bisa jadi cukup bagus untuk anak seusianya, Ade terbentuk menjadi seorang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak-anak, atau anak-anak yang terperangkap dalam pemikiran orang dewasa. Lalu, bagaimana menurut Anda? Bagaimana harus menyikapi anak-anak seperti Ade?


