Gonjing
Written on Apr 2, 08
Kisah ini merupakan sebuah kisah nyata yang dituturkan oleh saya sendiri selaku saksi hidup. Kejadian ini berlangsung pada suatu malam minggu di penghujung bulan Maret 2008.
Alkisah sudah sejak berminggu-minggu lamanya kami bertiga (saya dan kedua teman kost saya yang kebetulan bernama Ncep dan Ncit) memendam hasrat untuk makan malam bersama di sebuah Warung seafood (yang kebetulan juga menyediakan menu ayam dan kawan-kawan). Akhirnya tercapailah kesepakatan untuk melaksanakan apa yang menjadi cita-cita kami tersebut pada suatu malam minggu yang indah di penghujung Maret 2008 (telah tersebut juga) dengan kesepakatan salah seorang teman yang bernama Ncit(lagi-lagi sudah tersebut) yang akan menraktir kita sebagai kompensasi atas Ulang Tahunnya yang datang beberapa hari lalu. Setelah Sholat Magrib dan mandi(saya sih, entah bagaimana dengan kedua teman saya itu, diragukan apakah mereka masih memiliki keinginan untuk mandi) keluarlah kami dari kamar masing-masing dan berjalan menuju garasi dengan semangat 45, eh, 2008.Dengan penuh semangat pula (terbayang sudah makan seafood gratisan), saya membuka pintu garasi. Tetapi, apa yang erjadi saudara-saudara?
Sesosok makhluk berkaki empat berbulu cokelat telah menghadang kami! \”WHuaaaaaaa, Boni lepas!!!\” Sontak kami bertiga berteriak dikarenakan kebetulan kami bertiga memiliki phobia berlebih terhadap makhluk bernama Boni dan sebangsanya.Untung saja, tangan saya masih memiliki kecerdasan yang cukup untuk secara cepat memberikan tanggapan atas perintah otak untuk menutup kembali pintu garasi. Fiuuhhh, amanlah kami dari Boni. Alhamdulillah…, terimakasih ya Allah, telah Kau lindungi kami dari makhluk berbulu yang bernama Boni itu…
Akhirnya kami putuskan untuk mengurungkan niat kami makan seafood, untuk selanjutnya mengadakan konferensi meja panjang di ruang tamu kost kami tercinta mengenai apa yang telah, sedang, dan akan terjadi pada diri kami. Muncullah berbagai pertanyaan perihal kejadian yang baru saja kami alami. Pertanyaan pertama, Bagaimana ceritanya Boni bisa lepas dari rantai yang selama ini membelenggu kehidupannya? Muncullah fakta pertama yang berhasil terungkap. Beberapa saat sebelum kami meninggalkan kamar terdengar suara gaduh yang dilanjutkan dengan suara jeritan (salah ya istilahnya?yah, apapun itu lah!) makhluk-makhluk sebangsa Boni yang sedang berkejar-kejaran(yang selanjutnya disimpulkan bahwa Boni juga ada dalam komunitas berkejaran itu). Dari fakta pertama muncul pula praduga pertama yang cukup unik (atau bodoh lebih tepatnya?). Mungkinkah teman-teman Boni yang telah membebaskannya? Praduga yang cukup aneh ini kemudian diruntuhkan oleh sebuah alibi (yang tak kalah anehnya). Sepertinya tidak mungkin Boni dibebaskan oleh teman-temannya, karena sepertinya mereka bermusuhan, bukan berteman! Nah lho?!
Kemudian muncul fakta kedua, beberapa saat setelah fakta pertama Boni datang kesini dengan berkejaran dengan salah satu teman sebangsanya, tapi sesaat kemudian mereka nampak bermesraan. Praduga kedua, mungkin Boni sedang dalam masa puber dan ingin menyalurkan hasratnya untuk bereproduksi.Hmmm.., mungkin juga!
Di tengah gonjing (gosip anjing-red) yang cukup seru muncullah pertanyaan kedua yang jauh lebih penting daripada pertanyaan sebelumnya. Bagaimana nasib cacing-cacing (atau ular ya, suaranya kenceng banget?) yang sedang bernyanyi di perut kami? Tak sedikitpun bahan makanan kami miliki saat itu.Ide pertama adalah menghubungi Nyonya pemilik kost. Satu menit, dua menit, bermenit-menit tak kunjung ada jawaban sms dari Nyonya pemilik kost. Ditengah penantian kami salah seorang teman memberi 2 opsi. Yang pertama, tunggulah sampai Nyonya pemilik kost datang untuk mengembalikan Boni ke habitat asalnya. Opsi kedua bersabarlah menahan lapar sampai esok hari tiba. Dua opsi yang tak ada bedanya saya rasa, karena menunggu Nyonya pemilik kost pulang saat malam telah larut berarti sama dengan bersabar menahan lapar sampai esok hari tiba.
Dalam situasi kami yang sedang lapar muncul ide untuk menghubungi dan meminta bantuan bahan makanan dari teman yang berada di dekat sini. Akhirnya orang yang beruntung diberi kesempatan oleh Allah untuk menolong kami adalah Mustphar!!! Segeralah kami meng-sms teman sekantor kami yang konon baik hati dan tidak sombong itu.
Kira-kira bunyi sms yang kami kirim ke Mustphar, \”Must, tolong kami. Boni lepas! kami disini kelaparan.\”.
-sms dikirim-
-sms diterima-
\”Beneran?Yaudah, mau dibawain makanan apa?berapa?\”
Selanjutnya muncul pertanyaan ketiga yang diikuti pertanyaan keempat dan seterusnya, gimana cara Mustphar ngasih makanannya buat kita, denger suara kita buka pintu aja Boni langsung mendekat?emangnya Mustphar berani sama Boni?Gimana kalo mustphar yang dimakan sama Boni?Gimana kalo ternyata Boni menderita suatu penyakit yang oleh orang-orang disebut rabies dan menular ke Mustphar?Gimana kalo ternyata Boni yang tertular virus mustphar?
Pertanyaan-pertanyaan yang (lagi-lagi) cukup aneh dihentikan dengan telepon masuk dari Burcha (yang bisa dikatakan sahabat sejati Mustphar) dan terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti di bawah ini (setelah ditranslate ke Bahasa Indonesia karena lingua franca diantara kami adalah bahasa jawa):
(M)*: \”Kami sudah di depan kost kalian.\”
(N): \”Wah, yang bener?Tunggu sebentar, kami sedang di lantai atas,kami segera turun.\”
(M): \”ya\”
(N): \”Kami sudah bisa melihat kalian berdua.\”
Kemudian kami melihat dari balik kaca ruang tamu, dengan pedenya Mustphar membuka gerbang dan melangkah masuk (dalam hati:\”wah, Mustphar ternyata berani sama Boni\”). Tetapi, baru saja melangkahkan kaki melewati gerbang Boni dengan serta merta menghampiri makhluk yang asing baginya itu, dan makhluk asing bagi Boni itu segera membalikkan langkahnya dan segera menutup gerbang (dalam hati:\”ternyata sama aja!kirain berani!\”).Dan pembicaraan via telepon pun berlanjut.
(M): \”Yaudah, kami beli dulu makanan buat kalian, mau dibeliin apa?\”
(N): \”Mie instan (diedit, karena sang pembicara menyebut merk) aja deh, 5 bungkus ya!)
(M): \”ok, kami beli dulu\”
Dan Mustphar beserta Burcha beranjak meninggalkan kost kami dengan tetap melanjutkan pembicaraan via telepon.
(N): \”Terus, gimana caranya ngasihin mienya ke kami?\”
(M): \”Siapa yang paling pemberani diantara kalian?\”
(N): \”Mbak E****(nama penulis dirahasiakan)\”
(M): \”kasih hape ke dia\”
Pembicaraan pun beralih antara saya dengan Mustphar.
(S): \”Gimana Must?\”
(M): \”Nanti kamu stand by di pintu garasi, saat aku bilang buka langsung buka pintunya.\”
(S): \”Lho gimana bisa, orang denger suara pintu dibuka aja Boni langsung dateng?\”
Dan ternyata Mustphar dan Burcha telah tiba kembali dengan selamat di kost kami. Dan ternyata lagi, banyak anak kecil yang menonton kami dari luar gerbang(udah berasa kaya evakuasi korban kebakaran aja).
(S): \”Gimana Must?\”
(M): \”Ya kaya tadi, Nanti kamu stand by di pintu garasi, saat aku bilang buka langsung buka pintunya.\”
(S): \”Masih sama kaya tadi,gimana bisa, orang denger suara pintu dibuka aja Boni langsung dateng?\”
(M): \”Ncit suruh mengalihkan perhatian Boni, rayu Boni. Nari-nari atau ngapain lah, yang penting Boni tergoda.\”
(S): \”OK, dicoba ya!\”
Sementara diluar anak-anak kecil masih menonton dan memberi semangat.
(S): \”Aku udah di garasi. Kunci udah dibuka.\”
(M): \”Coba sekarang buka, Ncit siap-siap merayu Boni.\”
Saya mencoba membuka pintu garasi, Ncit dan Ncep berusaha merayu Boni (entah apa yang mereka lakukan).
(M): \”Hitungan ketiga buka pintunya.\”
(S): \” ok\”
(M): \”1…2…3…\”
Saya membuka pintu dan ternyata Boni langsung menghampiri (dalam hati:\”apa yang mereka lakukan untuk merayu Boni, kok ga mempan?bukankah itu keahlian Ncit?\” .Dengan penuh kecewa saya kembali menutup pintu garasi.
(S): \”Gagal Must, gimana nih?\”
(M): \”Coba lagi, Ncit dan Ncep harus lebih mengerahkan bakat merayunya!\”
(S): \”OK\”
Setelah menginstruksikan ke Ncep dan Ncit untuk lebih mengerahkan bakat merayunya, saya kembali stand by, dan Mustphar kembali menghitung.
(M): \”1…2…3…\”
Saya rasa Ncep dan Ncit telah berhasil merayu Boni dari balik kaca (entah apa lagi yang mereka lakukan) saya membuka pintu garasi dan Mustphar melemparkan bungkusan berisi makanan ke depan pintu garasi.Tangan saya dengan sigap meraih bungkusan tersebut tepat sesaat sebelum Boni datang menghampiri dan segera menutup pintu.
(S): \”Alhamdulillah… Makasih banyak Must, Bur!\”
(M): \”Sama-sama\”
Dengan penuh rasa haru saya membawa bungkusan yang ternyata berisi 6 bungkus Mie instan dan 3 buah roti ke ruang tamu disambut dengan suka cita kedua teman saya. Alhamdulillah, kami bisa berbagi rezeki dengan cacing-cacing di perut.
Berakhirlah upaya penyelamatan nyawa kami oleh Mustphar dan Burcha diikuti dengan pembubaran massa yang sedari tadi dengan penuh kesetiaan menonton kami dari luar pagar.
\”Must.., Bur.., jasamu takkan kami lupakan…\”
(Hampir saja kelupaan!) Keterangan pembicara dalam percakapan.*
(M): Mustphar
(N): Ncit
(S): Saya